Senin, 27 Juli 2015

A Lie In Last Night (Single Perdana)




Ku rasa ku lelah, semua tak pernah berubah. Slamat tinggal, masa lalu... bait yang elok ini merupakan bagian dari lirik lagu A Lie In Last Night. Yes, band asal Cipanas ini, baru-baru mengeluarkan single perdananya yang berjudul Selamat Tinggal Masa Lalu.
A Lie In Last Night, band bergenre alternative rock membentuk formasi yang diisi oleh Ahmad Syaid H. sebagai vocalist sekaligus rhytem yang suaranya uuuhh bak badai cetar membahana jedar jeder jedor hihi, lead guitar dikuasai oleh Dendi Gunawan si kalem yang gaye nye mempesona luar biasa, Indra Maulana yang menjabat sebagai pemain bass, yang paling kece menempati posisi sebagai drummer Yopi Yendi  sang penguasa aliansi ninja khayalan haha, serta Ami Soekarmi sebagai backing vocal yang tanpanya A Lie In Last Night terasa hampa. :D



20 Januari 2013, inilah hari sang Ahmad Syaid dan kawan-kawan memulai kreativitasnya untuk membuat karya. Hari berlalu, dan seiring berlalunya hari-hari itu telah lahirlah ke dunia ini seorang anak entah itu laki-laki atau perempuan yang dikandung selama dua tahun, gile gak kebayang ada yang ngandung selama itu hihi  tak lain dan tak bukan yaitu sebuah lagu yang berjudul Selamat Tinggal Masa Lalu. Cung yang penasaran sama lagu ini? ayo ngacung, ayo ngacung hihi
Anak pertama A Lie In Last Night ini dapat didownload secara gratis loh. Kalian bisa cek di http://www.mediafire.com/download/qz19rqo9c1i0hnh/A+Lie+In+Last+Night+-+Selamat+tinggal+masa+lalu.mp3 Berikut lirik dari lagu Selamat Tinggal Masa Lalu.

A Lie In Last Night - Selamat Tinggal Masa Lalu

Sebatas ku hanya ucapkan
Slamat tinggal masa lalu
Percuma ku berharap

Jika tersiksa tak bisa sempurna
Terjatuh tak mampu
Berdiri sendiri

Takkan kembali ku ingat..
Slamat tinggal, masa lalu..

Reff:
Di sini ku berdiri, tuk hadapi dunia
Menyongsong masa depan yang tak pernah ku tau
Ku rasa, ku lelah
Semua tak pernah berubah
Slamat tinggal, masa lalu..

Sungguh lirik yang luar biasa bukan? Lebih lagi jika kita mendengar lagunya. Paduan antara vocal kang Ahmad Syaid yang khas dan musik yang pas membuat lagu ini menjadi menarik. Hayoo, bagi yang ingin tahu lebih dalam tentang A Lie In Last Night sedalam-dalamnya, yuk hampiri di https://www.facebook.com/Rubikku.Band?ref=ts&fref=ts kali aja ada yang jodoh, hihi
Sukses A lie In Last Night menyongsong masa depannya. Karya yang lebih banyak dinikmati membuatmu semakin memukau. Goodluck ;-)




Kamis, 11 Juni 2015

PERBEDAAN CIRI-CIRI JENIS KATA PENURUT PARA AHLI

Ciri-ciri Jenis Kata Menurut Para Ahli


NO
Jenis Kata
Ciri-cirinya
Con-toh
C. A. Mees
Ramlan
Hasan Alwi/TBBI
Harimurti
1.
Verba
1.      Menyata-kan perbuatan
2.      Pokok kalimat menang-gapi, diperla-kukan atau dikenai perbuatan.
1.      Cenderung menempati fungsi predikat (P).
2.      Dapat dinegatifkan dengan kata tidak.
3.      Dapat diikuti dengan frase dengan sangat.
1.      Memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga memiliki fungsi lain.
2.      Menganduk makna inhern perbuatan  (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
3.      Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefik ter- yang berarti ‘paling’.
4.      Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan.
1.      Kemungki-nan didampingi partikel tidak dalam konstruksi.
2.      Tidak dapat didampingi dengan partikel di, ke, dari atau dengan partikel sangat, lebih atau agak.
Tidur, ma-kan, mi-num dll.
2.
Nomina
Kata-kata yang menyatakan benda.
1.      Dapat menduduki fungsi S, P, dan O.
2.      Dapat dinegatifkan dengan kata bukan.
3.      Dapat diikuti kata itu.
4.      Dapat mengikuti kata di atau pada sebagai aksisnya.
1.      Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subjek, objek atau pelengkap.
2.      Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak.
3.      Dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh kata yang.
1.      Tidak mempu-nyai potensi untuk bergabung dengan patikel tidak.
2.      Mempu-nyai potensi  untuk didahului oleh partikel dari.
Buku, batu, udara, dll.  
3.
Kata kete-rangan / adverb-ia
Menerangkan:
a.       kata kerja dalam segala fungsinya
b.      kata keadaan dalam segala fungsinya.
c.       Kata keterangan
d.      Kata bilangan
e.       Predikat kalimat, tak peduli jenis kata apa predikat itu.
f.       Menegaskan subjek dan predikat kalimat.
1.      Cenderung menduduki fungsi keterangan.
2.      Dapat ditempatkan di mana saja / mempunyai tempat bebas.

1.      Dalam tataran frasa, adverbia adalah kata yang menjelaskan verba, adjektiva atau adverbia lain.
2.      Dalam tataran klausa, adverbia mewatasi atau menjelaskan fungsi-fungsi sintaksis. Umumnya kata atau kalimat yang dijelaskan adverbia tersebut berfungsi sebagai predikat.

1.      Dapat mendampi-ngi adjektiva, numeralia, atau preposisi dalam kontruksi sintaksis.
2.      Tidak boleh dikacaukan dengan keterangan karena adverbia merupakan konsep kategori, sedangkan keterangan merupakan konsep fungsi.
Ke-marin, agak-nya,
4.
Kata depan /

Preposi-si
Pada umumnya dipakai untuk menjelaskan pertalian kata-kata.
1.      Berfungsi sebagai penanda dalam frase eksosentrik.
2.      Secara semantik, kata depan digunakan untuk menandai makna.
1.      Ditinjau dari perilaku semantisnya, kata depan menandai berbagai hubungan makna antara konstituen di depan preposisi tersebut dengan kontituen di belakangnya.
2.      Ditinjau dari perilaku sintaksisnya, kata depan berada di depan nomina, adjektiva atau adverbia sehingga terbentuk frasa yang disebut frasa preposisional.
Kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga berbentuk frase eksosentris direktif.
Di, Ke dan Dari.
5.
Kata bilang-an / numera-lia
Menunjukan kata bilangan pokok, bilangan tingkatan dan bilangan pecahan.
1.      Dapat diikuti kata-kata orang, kor, buah, helai kodi, meter dan sebagainya.
2.      Ada yang menyatakan jumlah dan menyatakan urutan. 
Dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang atau barang) dan konsep.
1.      Endampi-ngi nomina dalam kategori sintaktis.
2.      Mempunyai kompetensi untuk mendampi-ngi numeralia lain.
3.      Tidak dapat bergabung dengan tidak atau dengan sangat.
Satu, dua, tiga perti-ga, kesatukedua, dll.
6.
Kata ganti / prono-mina
Kata-kata yang menjadi pengganti nama orang atau nama benda.
-
1.      Menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina, seperti subjek, objek, dan –dalam macam kalimat tertentu- juga predikat.
2.      Acuannya dapat berpindah-pindah.
1.      Berfungsi untuk menggantikan nomina.
2.      Tidak bisa berafiks, tetapi beberapa di antaranya bisa direduplikasikan yakni kami-kami, mereka-mereka, dia-dia dengan pengertian ‘meremeh-kan’ atau ‘merendah-kan’.
3.      Dapat dijadikan frase pronominal seperti aku ini, kamu sekalian, mereka semua.
Saya, aku, kami, dia, dll.
7.
Kata penghu-bung / konjungsi
Menghubung-kan kata dengan kata yang mendahuluinya atau kalimat dengan kalimat yang mendahuluiny.
Berfungsi menghubungkan satuan gramatikal yang satu dengan yang lainnya sehingga membentuk satuan gramatikal yang lebih besar.
Kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat.
1.      Kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi.
2.      Menghubungkan bagian-bagian ujaran yang setara maupun tidak setara
Dan, yang, atau, mau-pun.
8.
Kata seru / interjek-si
Kata-kata yang menirukan bunyi manusia, yaitu bunyi panggilan, bunyi memperingatkan akan adanya bahaya, bunyi yang menyatakan kesakitan dan pelbagai rasa heran.
1.      Kata yang berdiri sendiri dalam suatu kalimat.
2.      Terpisah dari unsur-unsur lainnya.
1.      Kata tugas yang mengungkapkan rasa hati pembicara.
2.      Secara struktural, tidak bertalian dengan unsur kalimat lain.
1.      Kategori yang bertugas mengungkapkan perasaan pembicara; dan secara sintaktis tidak berhubungan dengan kata-kata lain dalam kalimat.
2.      Bersifat ekstrakali-mat dan mendahu-lui ujaran sebagai teriakan lepas atau berdiri sendiri.
Aduh, adu-hai
Ahoi, amboi dll.
9.
Kata sandang / artikula
Dapat dipakai untuk menunjukan kata sandang tentu (yang), persona (si dan sang), dan tak tentu (seorang, sebuah dan sesuatu).
1.      Digunakan untuk menyebut sejumlah kata yang jumlahnya terbatas.
2.      Selalu terletak di muka kata golongan nominal sebagai atributnya.
Kata tugas yang membatasi makna nomina, biasanya menunjukan kata yang bersifat gelar, yang mengacu ke makna kelompok, dan yang menominalkan.
1.      Kategori yang mendampingi nomina dasar (misalnya s kancili, sang dewan dan para pelajar), nomina deverbal (si terdakwa; si  tertuduh).
2.      Berupa partikel, tidak dapat berafiksasi.
Si, sang, yang.
10
Kata keadaan / adjek-tiva
1.      Memiliki fungsi predikatif.
2.      Memiliki fungsi atributif.
3.      Memiliki fungsi substantif.S
-
1.      Memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.
2.      Berfungsi sebagai predikat dan adverbial kalimat.
3.      Kemungkinan menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkan-nya.
1.      Dapat bergabung dengan partikel tidak.
2.      Mendampi-ngi nomina.
3.      Didampi-ngi partikel seperti lebih, sangat, agak.
4.      Mempu-nyai ciri-ciri morfologis
5.      Dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an.
Ting-gi, bagus, deras, dll.
11
Kata tambah
-
1.      Cenderung hanya menduduki fungsi atribut dalam frase yang termasuk tipe konstruksi tipe endosentrik yang atributif, yang unsur pusatnya berupa kata verbal.
2.      Menyatakan ragam, menyatakan negatif, menyatakan aspek, menyatakan keseringan, menyatakan keinginan, menyatakan keharusan, menyatakan kesanggupan dan menyatakan tingkatan.
-
-
Tentu, pasti, sudah, kerap kali, dll.
12
Kata penyu-kat
-
1.      Terletak di belakang kata bilangan dan bersama kata itu membentuk satu frase yang disebut frase bilangan.
2.      Mungkin terletak di muka kata nominal.
-
-
Orang, ekor, buah, kodi, meter, dll.
13
Kata tanya / interogativa
-
Berfungsi memberitahukan sesuatu kepada orang lain hingga tanggapan yang diharapkan hanyalah berupa perhatian dari lawan bicara.
-
Berfungsi menggantikan sesuatu yang ingin diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan apa yang telah diketahui oleh pembicara.
Apa, kena-pa, me-ngapa, siapa, dll.
14
Kata suruh
-
Berupa kata yang mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari lawan bicara.
-
-
Silah-kan,  mari, ayo, tolongdll.
15
Katego-ri fatis
-
-
-
1.      Kategori yang bertugas memulai, memperta-hankan, atau mengukuh-kan antara pembicara dan kawan bicara.
2.      Biasanya terdapat dalam konteks dialog atau wawancara
3.      Pada umumnya merupakan ragam lisan non-standar yang banyak mengan-dung unsur-unsur daerah atau regional.

Kok, deh, sela-mat,
-lah, pun
16
Demon-strativa
-
-
-
Kategori yang berfungsi untuk menunjukan sesuatu di dalam maupun di luar wacana.
Ini, itu, seki-an, sini, situ, dll


Daftar Pustaka

Alwi, Hasan, Dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Kridalaksana, Harimurti.2008. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta. 
Ramlan. 1990. Tata Bahasa Indonesia Penggolongan Kata. Andi Offset: Yogyakarta

ARTIKEL KASUS PROSTITUSI


 HIDUP GLAMOR BERSAHABAT DENGAN PROSTITUSI?
Oleh: Siti Nursansan




Barang bermerek, perhiasan dan gaya hidup glamor merupakan suatu kebanggaan bagi sebagian orang. Terkadang seseorang minder jika menggunakan barang-barang yang dibelinya dengan harga murah. Sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia bahwa hidup mewah menjadi suatu kebanggaan. Mereka berpikir bahwa kemewahan mengangkat derajatnya dan membuatnya diakui oleh orang lain. Hal tersebut menjadikan seseorang berusaha bagaimanapun caranya untuk mendapatkan kemewahan. Tidak jarang, pekerjaan-pekerjaan yang menguntungkan namun kurang baik atau tidak baik sekalipun dijadikan pilihan demi mencapai apa yang diinginkan.
Belakangan ini tersiar kabar maraknya pekerjaan yang tidak seharusnya dilakukan. Ironisnya, seorang figur yang seharusnya jadi contoh baik bagi masyarakat, malah sebaliknya memberikan kesan tidak baik untuk ditiru. Seseorang yang dinyatakan artis dengan sadar melakukan pekerjaan prostutusi. Hal tersebut tidak lain disebabkan karna kebiasaan gaya hidup artis yang glamor.
Gaya hidup seperti itulah yang akan merusak moral bangsa. Tanpa melakukan berbagai pertimbangan, seseorang akan terjerumus demi mendapatkan kemewahan. Padahal sebenarnya kemewahan bukanlah suatu kebutuhan primer ataupun sekunder yang mutlak dimiliki. Namun orang akan merasa puas ketika dirinya tampil dengan kemahalan yang ia kenakan dihadapan orang lain. Karena hal tersebut membuat dirinya merasa diakui.
 Untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, kemewahan bukan satu-satunya jalan yang harus ditempuh. Apalagi hal tersebut menjurumuskan kita pada pekerjaan prostitusi. Selain dilarang oleh agama, pekerjaan tersebut akan berdampak buruk bagi kehidupan sosial, mental apalagi kesehatan. Secara sosial, prostitusi merupakan tindakan yang amoral dan dipandang tabu. Secara mental, orang yang melakukan prostitusi akan mendapatkan tekanan pada dirinya sendiri dan akan merasa bersalah atas perbuatannya. Lebih membahayakan lagi, prostitusi akan berdampak sangat buruk bagi kesehatan. Prostitusi adalah jalan yang paling berpeluang bagi seseorang untuk terkena penyakit menular kelamin dan kandungan yang sangat berbahaya terutama HIV yang dapat menyebabkan kematian. Begitu mengerikan bukan?
Selain itu, gaya hidup glamor akan membuat seseorang memiliki prilaku yang konsumtif, boros, ria, sombong, dan menghambur-hamburkan harta tanpa tujuan. Hal tersebut tidak lain karena jaga gengsi dan akibat pergaulan dengan lingkungannya. Untuk itu, kita harus merubah gaya hidup dengan berhemat, menghargai diri sendiri, tidak membeli barang yang tidak perlu dan tidak bergaul dengan orang yang berperilaku konsumtif dan mewah.

Mengingat begitu banyaknya dampak buruk yang ditimbulkan karena gaya hidup yang menjerumuskan seseorang untuk melakukan prostitusi, sebaiknya kita sebagai orang yang beragama dan beradab meluruskan pandangan kita bahwa kemewahan bukanlah satu-satunya hal yang akan mengangkat derajat kita. Banyak hal lain yang dapat membuat kita diakui oleh orang lain. Hidup beragama, berpendidikan dan menghargai diri sendiri akan membuat hidup lebih berkualitas ketimbang menjual diri untuk hidup mewah.

Jumat, 29 Mei 2015

makalah penggolongan kata secara tradisional menurut C. A. MEES




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Penggolongan kata menyederhanakan pemerian struktur bahasa dan merupakan tahapan yang tidak boleh dilalui dalam penyusunan tata bahasa suatu bahasa. Setiap pembicaraan mengenai tata bahasa tentu melibatkan pembicaraan tentang penggolongan kata. Tanpa penggolongan kata, struktur frase, klausa, dan kalimat tidak mungkin dapat dijelaskan. Oleh karena itu, pembicaraan tentang penggolongan kata akan sangat bermanfaat dan akan merupakan sumbangan penting bagi tata bahasa dan juga bagi pengajaran bahasa Indonesia.
Pada makalah ini akan dibahas secara khusus mengenai penggolongan kata menurut C.A Mees. C.A Mess menggolongkan kata menjadi sepuluh golongan, diantaranya kata benda atau nomen substuntivum, kata keadaan atau nomen adjectivum, kata ganti atau pronominal, kata kerja atau verbum, kata bilangan atau numeri, kata sandang atau artikulus, kata depan atau praepositio, kata keterangan atau adverbium, kata sambung atau conjunction dan kata seru atau interjection, serta keunikan penggolongan kata secara tradisional menurut C. A Mees.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini di antaranya:
1.      Apa saja yang termasuk penggolngan kata menurut C. A Mees?
2.      Apa keunikan penggolongan kata menurut C. A Mees?

1.3  Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini di antaranya:
1.      Unuk mengetahui penggolngan kata menurut C. A Mees.
2.      Untuk mengetahui keunikan penggolongan kata menurut C. A Mees.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penggolongan Kata Secara Traditional Oleh C. A MESS
C.A Mess menggolongkan kata menjadi sepuluh golongan, di antaranya kata benda atau nomen substuntivum, kata keadaan atau nomen adjectivum, kata ganti atau pronominal, kata kerja atau verbum, kata bilangan atau numeri, kata sandang atau artikulus, kata depan atau praepositio, kata keterangan atau adverbium, kata sambung atau conjunction dan kata seru atau interjection.

2.1.1 Kata Benda atau Nomen Substantivum
Kata benda atau nomen substantivum ialah kata yang menyebut nama substansi atau perwujudan. Kata golongan ini dapat dibedakan menjadi dua golongan, pertama kata benda yang bersifat kongkret yaitu kata benda yang menunjukkan benda berwujud contohnya meja, kursi, pintu, dan lain-lain, kedua kata benda yang bersifat abstrak yaitu kata yang tidak menunjuk pada sebuah objek tetapi pada suatu kejadian atau pada suatu abstraksi seperti bangsa, angin, udara dan lain-lain.
Antara kedua golongan kata benda itu tidak terdapat perbedaan bentuk yang menjadi ciri. Baik kata benda kongkret maupun abstrak mungkin berupa kata dasar, mungkin juga berupa kata yang diturunkan.

2.1.2 Kata Keadaan atau Nomen Adjectivum
Dijelaskan bahwa kata keadaan memiliki tiga fungsi, ialah:
1.      Fungsi predikatif, yaitu apabila ada kata keadaan itu menduduki fungsi predikat, misalnya kata tinggi dan pucat dalam kalimat Pohon itu tinggi; Mukanya Pucat.
2.      Fungsi atributif, yaitu apabila kata keadaan itu terikat pada kata benda, misalnya kata tinggi, besar, lama dan kecil dalam pohon tinggi, peralatan besar, pangkalan lama dan perahu kecil.
3.      Fungsi substantive, yaitu apabila kata keadaan itu di substantif (kata benda) yang bersangkutan, misalnya si nakal, yang tinggi.

2.1.3   Kata Ganti atau Pronomina
Kata ganti atau pronominal ialah kata-kata yang menunjuk, menyatakan atau menanyakan tentang sebuah substansi dan dengan demikian justru mengganti namanya. Kata golongan ini dapat dibedakan menjadi enam golongan, yaitu:
1.      Kata ganti persona (orang) ialah kata-kata yang mengganti nama persona. Dapat digolongkan menjadi:
a.       Kata ganti persona pertama, misalnya aku, saya, kami.
b.      Kata ganti persona kedua, misalnya engkau, kamu, tuan, saudara.
c.       Kata ganti persona ketiga, misalnya ia, dia, mereka.
2.      Kata ganti mandiri ialah kata ganti yang mengganti diri persona itu sendiri, yaitu kata diri dan diri sendiri.
3.       Kata ganti petunjuk ialah kata yang menunjuk tempat sesuatu substansi, atau dapat juga mengganti substansi itu, yaitu kata ini dan itu.
4.      Kata ganti relative, ialah kata yang menyatakan perhubungan antara sebuah substansi dengan kalimat yang menghubungkanya, yaitu kata yang.
5.      Kata ganti penanya, ialah kata yang menyatakan pertanyaan mengenai nama substansi, misalnya seperti kata apa, siapa dan mana.
6.      Kata ganti tak tentu, ialah kata yang menyatakan suatu substansi yang tak tentu, yaitu kata apa, apa-apa, siapa-siapa, mana-mana, anu, masing-masing, sesuatu dan seseorang.

2.1.4 Kata Kerja atau Verbum
Kata golongan ini dibedakan menjadi dua golongan, ialah:
1.      Kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang membutuhkan substantif supaya sempurnya artinya, contohnya membaca, mencuci dan lain-lain.
2.      Kata kerja intransitif, yaitu kata kerja yang sudah sempurna artinya, karena itu tidak dapat dibubuhi substantif sebagai pelangkapnya, contohnya berlari, berenang, menyanyi dan lain-lain.
*Selain daripada itu, dikemukakan juga kata kerja yang lain, ialah yang disebut dengan kata kerja kopula. Kata kerja kopula ialah kata kerja yang bertindak sebagai kopula, misalnya kata adalah, jadi, menjadi, jatuh, misalnya dalam jatuh sakit.

2.1.5 Kata Bilangan atau Numeri
Kata ini digolongkan menjadi:
         1.         Induk kata bilangan, misalnya satu, dua, tiga, seratus dan seterusnya.
         2.         Kata bilangan tak tentu, misalnya beberapa, segala.
         3.         Kata bilangan kumpulan, misalnya bertiga, berlima.
         4.         Kata bilangan tingkat, misalnya kesatu, kedua, ketiga.
         5.         Kata bilangan pecahan, misalnya dua pertiga, seperdua.

2.1.6 Kata Sandang atau Artikulus
Kata sandang adalah unsur yang dipakai untuk membatasi atau memodifikasi nomina. Menurut fungsi dan pemakaianya kata sandang dibedakan menjadi tiga golongan, ialah:
1.      Kata sandang tentu, yaitu kata yang.
2.      Kata sandang persona, yaitu si dan sang.
3.      Kata sandang tak tentu, yaitu kata seorang, sebuah, sesuatu.

2.1.7 Kata Depan atau Praepositio
Pada umumnya, kata depan dipakai untuk menjelaskan pertalian kata-kata. Kata depan yang tulen ialah di, ke dan dari. Di samping itu, terdapat kata depan yang lain ialah pada, akan, dengan, serta, antara, sama, demi, peri, tentang, karena, bagi, untuk, guna, oleh, dan sebagainya. Ada lagi yang disebut kata kerja majemuk, ialah kata-kata di dekat, di dalam, ke dekat, ke luar, dari dalam, di hadapan, dan sebagainya.



2.1.8 Kata Keterangan
Yang dimaksud kata keterangan ialah kata yang menerangkan kata kerja dalam segala fungsinya, kata keadaan dalam segala fungsinya, kata keterangan, kata bilangan, predikat kalimat, tak peduli jenis kata apa predikat itu, dan menegaskan subjek dan predikat kalimat.
Kata golongan ini dapat dibedakan menjadi:
1.      Kata keterangan waktu, misalnya dahulu, kemarin, hari ini, sekarang, kini, besok, kemudian, selamanya dan sebagainya.
2.      Kata keterangan modal, yang dapat dibedakan menjadi:
a.       Kepastian, misalnya kata-kata memang, niscaya, pasti, dan sebagainya.
b.      Pengakuan, misalnya kata-kata ya, benar, betul, sebenarnya dan sebagainya.
c.       Kesangsian, misalnya kata-kata agaknya, barangkali dan sebagainya.
d.      Keinginan, misalnya kata-katamoga-moga, mudah-mudahan.
e.       Ajakan, misalnya kata-kata baik, mari, hendaknya.
f.       Kewajiban, misalnya kata-kata harus, perlu, wajib.
g.      Larangan, misalnya kata jangan.
h.      Ingkaran ialah kata bukan, bukannya, tidak.
i.        Keheranan, ialah kata masakan, mana boleh , mustahil. 
3.      Kata keterangan tempat dan jurusan, misalnya kata-kata disini, dari situ, kesana, dari mana, dan sebagainya
4.      Kata keterangan kaifat dan kualitatif, misalnya kata-kata perlahan-lahan, dengan gembira, kuat-kuat, selebar-lebarnya, dan sebagainya.
5.      Kata keterangan derajat dan permana, misalnya kata-kata amat, hampir, sangat, kurang, dan sebagainya.
6.      Kata tekanan, ialah kah, gerangan, pula, pun, dan lah.

2.1.9 Kata Sambung atau Conjunction
Kata sambung ialah kata-kata yang menghubungkan kata-kata, bagian-bagian kalimat, dan kalimat-kalimat. Kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang berdiri pada permulaan sebuah kalimat sebagai pengantar sebuah serita, suatu pasal, atau kalimat baru yang termasuk golongan kata sambung. Yang termasuk golongan kata sambung misalnya kata-kata apabila, bilamana, lagi pula, dan, agar, karena dan sebagainya.

2.1.10 Kata Seru atau Interjection
Kata seru ialah kata-kata yang menirukan bunyi manusia, yaitu bunyi panggilan, bunyi yang memperingatkan akan adanya bahaya, bunyi yang menyatakan kesakitan dan berbagai rasa heran. Kadang-kadang kata seru itu menirukan bunyi yang jelas, seperti hm, yaitu bunyi deham, ha, sst, dan sebagainya.
Yang termasuk golongan kata seru misalnya kata-kata ya, wah, ah, hai, o, oh, cis, cih, dan sebagainya.

2.2 Keunikan Penggolongan Kata Oleh C. A MESS 
C.A MESS menggolongkan kata secara terstruktur, urut dan terperinci. Pada penggolongan kata ini, semua kata dalam Bahasa Indonesia memiliki kedudukan dalam kalimat. Hal tersebut menandakan bahwa penggolongan kata menurut C. A MESS lengkap dan juga jelas. Selain mudah dipahami, C. A MESS juga menggolongkan kata dengan struktur yang dekat dengan struktur atau penggolongan kata dalam Bahasa Inggris yaitu Part of Speech, karena C. A Mess banyak menggunakan istilah yang diadopsi dari Part of Speech.








BAB III
PENUTUP

3.1    Simpulan
C.A Mess menggolongkan kata menjadi sepuluh golongan, diantaranya kata benda atau nomen substuntivum, kata keadaan atau nomen adjectivum, kata ganti atau pronominal, kata kerja atau verbum, kata bilangan atau numeri, kata sandang atau artikulus, kata depan atau praepositio, kata keterangan atau adverbium, kata sambung atau conjunction dan kata seru atau interjection.
Penggolongan kata oleh C. A MESS  memiliki keunikan, yaitu penggolongan katanya terstruktur, urut dan terperinci. Pada penggolongan kata ini, semua kata dalam Bahasa Indonesia memiliki kedudukan dalam kalimat. Hal tersebut menandakan bahwa penggolongan kata menurut C. A MESS lengkap dan juga jelas.

3.2    Saran
Penggolongan kata sangat penting bagi orang bahasa, hal ini untuk menyederhanakan pemerian struktur bahasa dan merupakan tahapan yang tidak boleh dilalui dalam penyusunan tata bahasa suatu bahasa, oleh karena itu penggolongan kata perlu diketahui oleh seseorang yang berkecimpung dalam kebahasaan, termasuk penggolongan kata secara tradisional ini.



DAFTAR PUSTAKA

Arzieah. 2013. Penggolongan Kata dalam Bahasa Indonesia. Online. Diakses

Ramlan. 1990. Tata Bahasa Indonesia Penggolongan Kata. Andi Offset:
Yogyakarta




Teks Dadaran (Deskripsi) Jajampanaan

  Jajampanaan kecap jajampanaan asalna tina kecap "jampana" nyaeta alat nu dijieun tina kai atau awi pikeun ngagotong nu gering, n...