Kamis, 16 Januari 2014

MAKALAH PROFESI KEPENDIDIKAN




PROFESI KEPENDIDIKAN

MAKALAH
(ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Profesi Kependidikan)










Oleh: Siti Nursansan





FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS SURYAKANCANA CIANJUR
2013



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Guru adalah satu komponen manusiawi dalam proses belajar-mengajar, yang ikut berperan dalam usaha membentuk sumber daya manusia yang potensial dibidang pembangunan. Oleh karena itu guru, guru yang merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga professional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang makin berkembang. Dalam arti khusus dikatakan bahwa pada setiap diri guru itu terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu.
Dalam rangka ini guru tidak semata-mata sebagai “pengajar” tetapi juga sebagai “pendidik” dan sekaligus sebagai “pembimbing”. Berkaitan dengan ini, sebenarnya guru memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks di dalam proses belajar-mengajar, dalam usahanya mengantarkan siswa/anak didik ke taraf yang dicita-citakan. Oleh karena itu, setiap rencana kegiatan guru harus dapat didudukkan dan dibenarkan semata-mata demi kepentingan anak didik, sesuai dengan profesi dan tanggung jawabnya. Guru sebagai tenaga professional memiliki tugas yang sangat berat karena erat kaitannya dengan keberhasilan kualitas pendidikan, yaitu meningkatkan kualitas pendidikan yang ingin di capai, dan selaras dengan tujuan pendidikan nasional sehingga dapat memenuhi standar tujuan pembangunan nasional.

1.2  Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan di atas, maka masalah dalam  makalah ini dibatasi dalam hal-hal sebagai berikut yaitu :
1.      Kedudukan dan profesi guru
2.      Kode etik guru
1.3  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini diantaranya sebagai berikut:
1.      Bagaimana kedudukan dan profesi guru?
2.      Seperti apa kode etik guru?
1.4  Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari makalah ini diantaranya yaitu:
1.      Sebagai bahan untuk referensi berlangsungnya diskusi
2.      Untuk memperluas pengetahuan tentang profesi kependidikan khususnya tentang kendudukan dan profesi guru serta kode etik guru.
1.5  Manfaat Makalah
Adapun manfaat dari makalah ini yaitu:
1.      Menambah wawasan tentang profesi kependidikan
2.      Memperluas pengetahuan tentang profesi kependidikan khususnya tentang kedudukan dan profesi guru serta kode etik guru.




 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KEDUDUKAN DAN PROFESI GURU
Dalam ilmu Sosiologi kita biasa menemukan dua istilah yang akan selalu berkaitan, yakni  ‘’status’’ (merupakan sebuah peringkat, kedudukan atau posisi seseorang dalam suatu kelompok, atau posisi suatu kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain) dan ‘’peran sosial’’ (merupakan sebuah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki suatu status tertentu tersebut) di dalam masyarakat.
Status sebagai guru, atau kedudukan sebagai guru dapat dipandang sebagai yang tinggi atau rendah, tergantung di mana ia berada. Sedangkan perannya yang berkedudukan sebagai pendidik seharusnya menunjukkan kelakuan yang layak sesuai harapan masyarakat, dan guru diharapkan berperan sebagai teladan dan rujukan dalam masyarakat dan khususnya anak didik yang dia ajar. Guru tidak hanya memiliki satu peran saja, ia bisa berperan sebagai orang yang dewasa, sebagai seorang pengajar dan sebagai seorang pendidik, sebagai pemberi contoh dan sebagainya.
Profesi Pendidik merupakan profesi yang sangat penting dalam kehidupan suatu bangsa, hal ini karena kedudukan pendidik yang sangat penting dalam konteks kehidupan bangsa. Sebagai pegawai kedudukan guru ditentukan oleh pengalaman kerja, golongan, ijazah, dan lama kerjanya.  Untuk dapat melakukan peran dan melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya, maka untuk menjadi seorang guru harus memenuhi beberapa persyaratan. Adapun syarat-syarat menjadi guru itu dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok.
1.      Persyaratan Administratif
Syarat-syarat administratif ini antara lain meliputi: berkewarganegaraan yang baik (Indonesia), umur minimal 18 tahun, mengajukan permohonan. Selain itu masih ada syarat-syarat lain yang telah ditentukan sesuai dengan kebijakan yang ada.
2.      Persyaratan teknik
Dalam persyaratan teknis ini ada yang bersifat formal. Yakni harus berijazah pendidikan guru. Kemudian persyaratan yang lain adalah menguasai cara dan teknik mengajar, terampil mendesain program pengajaran serta mempunyai motivasi dan cita-cita memajukan pendidikan/pengajaran.
3.      Persyaratan psikis
Yang berkaitan dengan kelompok persyaratan psikis, antara lain: sehat rohani, dewasa dalam berpikir dan bertindak, mampu mengendalikan emosi, sabar, ramah, dan sopan, memiliki jiwa kepemimpinan, konsekuen dan berani bertanggung jawab, berani berkoeban dan memiliki jiwa pengabdian. Guru dituntut untuk bersifat pragmatis dan realistis, tetapi juga memiliki pandangan yang mendasar dan filosofi. Guru harus mematuhi norma yang berlaku serta memiliki semangat yang membangun.
4.      Persyaratan fisik
Persyaratan fisik ini antara lain meliputi: berbadan sehat, tidak memiliki cacat tubuh yang mungkin mengganggu pekerjaannya. Dalam persyaratan fisik ini juga menyangkut kerapian dan kebersihan, termasuk bagaimana cara berpakaian. Sebab bagaimanapun juga guru akan selalu dilihat/diamati dan bahkan dinilai oleh para siswa.
Kedudukan guru juga dapat ditentukan oleh fakta bahwa ia orang dewasa. Dalam masyarakat kita orang yang lebih tua harus dihormati. Oleh sebab guru lebih tua daripada muridnya maka berdasarkan usianya  ia mempunyai kedudukan yang harus dihormati, apalagi karena guru juga dipandang sebagai pengganti orang tua. Hormat anak terhadap orang tuanya sendiri harus pula diperlihatkannya terhadap gurunya dan sebaliknya guru harus pula dapat memandang murid sebagai anak.
Sesuai dengan tugas profesionalnya, maka sifat dan persyaratan tersebut secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam spektrum yang lebih luas, yakni guru harus: memiliki kemampuan professional, memiliki kapasitas intelektual, memiliki sifat edukasi sosial. Ketiga syarat kemampuan tersebut diharapkan telah dimiliki oleh setiap guru, sehingga mampu memenuhi fungsinya sebagai pendidik bangsa, guru di sekolah dan pemimpin di masyarakat.
Di rumah, guru sebagai orang tua atau ayah-ibu adalah pendidik dari para putra dan putrinya. Di dalam masyarakat sekitar yaitu masyarakat kampong, desa tempat tinggalnya guru sering kali terpandang sebagai tokoh suri teladan bagi orang-orang disekitarnya, baik dalam sikap dan perbuatannya misalnya cara dia berpakaian, berbicara dan bergaul, maupun pandangan-pandangannya.
Bab II Pasal 2 Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyebutkan bahwa:
1)      Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga professional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2)      Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga professional sebagaimana dimaksud.

Maksud dari ayat di atas menyebutkan bahwa  guru adalah orang yang mendalami profesi sebagai pengajar dan pendidik, mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk memberikan kontribusi. Umumnya guru merujuk pada pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih dan mengevaluasi hasil belajar siswa peserta didiknya. Tugas guru yang diemban timbul dari rasa percaya masyarakat terdiri dari mentransfer kebudayaan dalam arti yang luas, ketrampilan menjalani kehidupan (Life skills), terlibat dalam kegiatan-kegiatan menjelaskan, mendefinisikan, membuktikan dan mengklasifikasikan, selain harus menunjukkan sebagai orang yang berpengetahuan luas, trampil dans ikap yang bias dijadikan panutan. Maka dari itu, guru harus memiliki kompetensi dalam membimbing siswa untuk siap menghadapi kehidupan yang sebenarnya (The real life) dan bahkan mampu memberikan keteladanan yang baik.
Undang-Undang No 14 tahun 2005, pasal 4 mengisyaratkan bahwa Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran yang berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.  Pasal 6 menyebutkan bahwa Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Di samping itu guru mempunyai tugas utama sebagai berikut:
a)      menyusun perencanaan pembelajaran;
b)      menyampaikan perencanaan;
c)      melakukan hubungan baik dengan sesama teman seprofesi, maupun dengan masyarakat;
d)      mengelola kelas  yang disesuaikan dengan karakterstik peserta didik;
e)      melakukan penelitian dan inovasi dalam pendidikan, dan memanfaatkan hasilnya untuk kemajuan pendidikan;
f)       mendidik siswa sehingga mereka menjadi manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika, bangsa, masyarakat, dan agama;
g)      melaksanakan program bimbingan konseling, dan administrasi pendidikan;
h)      mengembangkan diri dalam wawasan, sikap, dan ketrampilan profesi; dan 
i)        memanfaatkan teknologi, lingkungan, budaya, dan sosial, serta lingkungan alam dalam proses belajar. 
Sanjaya (dalam aadesanjaya.blogspot.com) membagi tugas dan tanggung jawab guru menjadi lima kategori, yakni:
1.      Guru bertanggung jawab dalam pengajaran.
Tanggung jawab guru yang terpenting ialah memberikan pengajaran kepada siswa guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Guru harus membimbing siswa agar mereka memperoleh keterampilan-keterampilan, pemahaman, perkembangan berbagai kemampuan, kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan perkembangan sikap serasi.
2.      Guru bertanggung jawab dalam memberikan bimbingan.
Guru memberi tekanan kepada tugas, memberikan bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya. Tugas ini merupakan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan dengan penyampaian ilmu pengetahuan tetapi juga menyangkut pengembangan kepribadian dan pembentukan nilai-nilai para siswa.
Guru perlu menghormati pribadi anak, supaya mereka menjadi pribadi yang tahu akan hak-hak orang lain. Kebiasaan, sikap, dan apresiasinya harus dikembanggkan, hingga pada waktunya mereka menjadi nabusia yang mengerti akan hak dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat yang berdiri sendiri. Karena itu guru harus memahami benar tentang masalh bimbingan belajar, bimbingan pendidikan, bimbingan pribadi, dan terampil dalam memberikan penyuluhan dengan tepat.
3.      Guru bertanggung jawab dalam mengembangkan kurikulum.
Sesungguhnya guru merupakan seorang key person yang paling mengetahui tentang kebutuhan kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Untuk mengubah kurikulum itu bukan tidak mungkin, akan tetapi dalam rangka mambuat atau memperbaiki proyek-proyek pelaksanaan kurikulum, yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Paling tidak dia berkewajiban memberi saran-saran yang berguna demi penyempurnaan kurikulum kepada pihak yang berwenang. Dalam hubungan ini guru dapat melakukan banyak hal, antara lain: menyarankan ukuran-ukuran yang mungkin dapat digunakan dalam memilih bahan kurikulum, berusaha menemukan minat, kebutuhan dan kesanggupan siswa, berusaha menemukan cara-cara yang tepat agar antara sekolah dan masyarakat terjalin hubungan kerja sama yang seimbang, mempelajari isi dan bahan pelajaran pada setiap kelas dan meninjaunya dalam hubungan dengan praktek sehari-hari.
4.      Tanggung jawab dalam mengembangkan profesional guru.
Guru sangat perlu meningkatkan peranan dan kemampuan profesionalnya. Tanpa adanya kecakapan yang maksimal yang dimiliki oleh guru maka kiranya sulit bagi guru tersebut mengembang dan melaksanakan tanggung jawabnya dengan cara yang sebaik-baiknya. Peningkatan kemampuan itu meliputi kemampuan untuk melaksanakan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas di dalam sekolah dan kemampuannya yang diperlukan untuk merealisasikan tanggung jawabnya di luar sekolah. Kemampuan-kemampuan itu harus dipupuk dalam diri pribadi guru sejak ia mengikuti pendidikan guru sampai ia bekerja.
5.      Tanggung jawab dalam membina hubungan dengan masyarakat.
Guru tak mungkin melaksanakan pekerjaannya secara efektif, jika seorang guru tidak mengenal masyarakat seutuhnya dan secara lengkap. Harus dipahami dengan baik tentang pola kehidupan, kebudayaan, minat, dan kebutuhan masyarakat, karena perkembangan sikap, minat, aspirasi anak sangat banyak dipengaruhi oleh masyarakat sekitarnya. Ini berarti, bahwa dengan mengenal masyarakat, guru dapat mengenal siswa dengan menyesuaikan pelajarannya secara aktif.

2.1.1        Guru Sebagai Tenaga Profesional
Kata profesi memiliki banyak kata konotasi, salah satu diantara tenaga kependidikan, termasuk guru. Secara umum profesi sebagai suatu pekerjaan yang memiliki pendidikan lanjut didalam science dan teknologi yang digunakan sebagai perangkat dasar untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan bermanfaat. Seorang pekerja prefesional khususnya guru dapat dibedakan seorang teknisi, karena disamping menguasai sejumlah teknik serta prosedur kerjatertentu, seorang pekerja prefesional juga ditandai adanya informed responsiveness terhadap implikasi kemasyarakatan dari kerjanya.
Menurut Westby dan Gibbson, mengemukakan ciri-ciri keprofesian dibidang kependidikan sebagai berikut:
1.      Diakui oleh masyarakat dan layanan hanya dikerjakan oleh pekerja yang dikategorikan sebagai suatu profesi.
2.      Memiliki sekumpulan bidang ilmu pengetahuan sebagai landasan dari sejumlah tehknik dan prosedur yang unik.
3.      Diperlukan persiapan yang sengaja dan sistematis, sebelum orang itu dapat melaksanakan pekerjaan profesional.
4.      Memiliki mekanisme untuk menyaring sehingga orang yang berkompten saja yang diperbolehkan bekerja.
5.      Memiliki organisasi profesional untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat.

2.1.2        Guru Sebagai Pendidik dan Pembimbing
Seseorang dikatakan sebagai guru tidak cukup “tahu” sesuatu materi yang akan diajarkan, tetapi pertama kali ia harus merupakan seseorang yang memang memiliki “kepribadian guru”, dengan segala ciri tingkat kedewasaannya. Dengan kata lain untuk menjadi pendidik atau guru, seseorang harus memiliki kepribadian.
Ada tiga alternatif yang perlu diperhatikan oleh para guru dalam menjalankan tugas pengabdiannya, yakni:
1.      Merasa terpanggil
2.      Mencintai dan menyayangi anak didik
3.      Mempunyai rasa tanggung jawab secara penuh dan sadar mengenai tugasnya.
Sehubungan dari beberapa fungsi yang dimiliki guru, maka terdapat beberapa aspek utama yang merupakan kecakapan serta pengetahuan dasar bagi guru.
1.      Guru harus dapat memahami dan menempatkan kedewasaanya.
2.      Guru harus mengenal diri siswanya.
3.      Guru harus memiliki kecakapan memberi bimbingan.
4.      Guru harus memiliki dasar pengetahuan yang luas tentang tujuan pendidikan di Indonesia pada umumnya sesuai dengan tahap-tahap pembangunan.
5.      Guru harus memiliki pengetahuan yang bulat dan baru mengenai ilmu yang diajarkan.

2.1.3        Peran Guru
Peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar, secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut.
1.      Sebagai Informator
Sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
2.      Sebagai Organisator
Guru sebagai organisator, pengelola kegiatan akademik, silabus, workshop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, semua diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai efektifitas dan efesiensi dalam belajar pada diri siswa.
3.      Sebagai Motivator
Peran guru sebagai motivator ini penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas), sehingga akan terjadi dinamika dalam proses belajar mengajar.
4.      Sebagai Pengarah/Direktor
Jiwa kepemimpinan bagi guru dalam peranan ini lebih menonjol. Guru dalam hal ini harus membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan, guru harus juga “handayani”.
5.      Sebagai Inisiator
Guru dalam hal ini sebagi pensetus ide-ide dalam proses balajar. Sudah barang tentu ide-ide itu merupakan ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya. Jadi termasuk pula dalam lingkup semboyan “ing ngarso sungtulodo”.
6.      Sebagai Transmitter
Dalam kegiatan belajar guru juga akan bertindak selaku penyabar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan.
7.      Sebagai Fasilitator
Berperan sebagai fasilitator, guru mamberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar, misalnya dengan menciptakan menciptakan suasana kegiatan belajar yang sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar-mengajar berangsung secara efektif. Hal ini bergayut dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”.
8.      Sebagai Mediator
Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam kefiatan belajar siswa. Misalnya memberikan lajan keluar kemacetan dalam kegiatan diskusi siswa. Megiator juga diartikan penyedia media. Bagaimana cara memakai dan mengorganisasikan penggunaan media.
9.      Sebagai Evaluator
Evaluator yang dimaksud adalah evaluasi yang mencangkup pola evaluasi intrinsic. Untuk ini guru harus hati-hati dalam menjatuhkan nilai atau kriteria keberhasilan.
Seperti yang kita tahu pendidik merupakan unsur dominan dalam suatu proses pendidikan, sehingga kualitas pendidikan banyak ditentukan oleh kualitas pendidik dalam menjalankan peran dan tugasnya di masyarakat. Dengan mengingat hal tersebut, maka jelas bahwa upaya-upaya untuk terus mengembangkan profesi pendidik (guru) menjadi suatu sayarat mutlak bagi kemajuan suatu bangsa, meningkatnya kualitas pendidik akan mendorong pada peningkatan kualitas pendidikan baik proses maupun hasilnya.
Di indonesia, Pemerintah mengembangkan profesi pendidik sebagai profesi yang kuat dan dihormati sejajar dengan profesi lainnya. Hal ini dapat dilihat dengan lahirnya UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang ini jelas menggambarkan bagaimana pemerintah mencoba mengembangkan profesi pendidik melalui perlindungan hukum dengan standard tertentu yang diharapkan dapat mendorong pengembangan profesi pendidik.
Perlindungan hukum memang diperlukan terutama secara sosial agar civil effect dari profesi pendidik mendapat pengakuan yang memadai, namun hal itu tidak serta-merta menjamin berkembangnya profesi pendidik secara individu, sebab dalam konteks individu justru kemampuan untuk mengembangkan diri sendiri menjadi hal yang paling utama yang dapat memperkuat profesi pendidik. Oleh karena itu upaya untuk terus memberdayakannya merupakan suatu keharusan agar kemampuan pengembangan diri para pendidik semakin meningkat.
Secara garis besar ada tiga tingkatan kualifikasi professional guru sebagai tenaga professional tenaga kependidikan.
1.      Tingkatan capability personal, guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan dan keterampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses belajar-mengajar secara efektif.
2.      Guru sebagai motivator, yakni sebagai tenaga kependidikan yang memiliki komitmen terhadap upaya perubahan dan informasi.
3.      Guru sebagai developer, guru harus memiliki profesi keguruan yang mentap dan luas perspektifnya. Guru harus mampu dan mau melihat jauh ke depan dalam menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sector pendidikan sebagai  suatu system.

2.2      KODE ETIK GURU

Secara harfiah kode etik berarti sumber etik. Etik artinya tata susila (etika) atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Jadi kode etik guru adalah aturan tata susila keguruan. Maksudnya aturan-aturan tentang keguruan (yang menyangkut pekerjaan-pekerjaan guru) dilihat dari segi susila. Maksud kata susila adalah hal yang berkaitan dengan baik dan tidak baik menurut ketentuan-ketentuan umum yang berlaku. Dalam hal ini kesusilaan diartikan sebagai kesopanan, sopan santun dan keadaban.
Kode etik guru juga merupakan perangkat untuk mempertegas atau mengkristalisasi kedudukan dan peranan guru serta sekaligus untuk melindungi profesinya.
Kode Etik Guru Indonesia (KEGI) mulai diberlakukan Januari 2013.  KEGI sangat berkaitan dengan mutu guru dan mutu pendidikan di Indonesia.  Guru perlu ada kode etik yang menjadi rambu-rambu profesi sama halnya dengan profesi lainnya seperti jurnalis atau dokter yang memiliki kode etik.
Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mendefinisikan bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Sebagai tenaga profesional, guru dituntut untuk selalu mengembangkan diri sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni

2.2.1        Kode Etik Guru Indonesia

Kode etik guru Indonesia dapat dirumuskan sebagai himpunan nilai-nilai dan norma-norma profesi guru yang tersusun dengan baik dan sistematik dalam suatu sistem yang utuh dan bulat. Fungsi kode etik guru Indonesia adalah sebagai landasan moral dan pedoman tingkah laku setiap guru warga PGRI dalam menunaikan tugas pengabdiannya sebagai guru, baik didalam maupun diluar sekolah serta dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Saat ini sudah dibentuk Dewan Kehormatan Guru di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia yang akan menerima laporan atas pelanggaran KEGI yang dilakukan guru. Untuk itu, semua guru tanpa kecuali harus mentaati kode etik ini dan jika dalam melaksanakan profesinya terbukti menyalahi kode etik, maka akan dijatuhi sanksi tegas sebagaimana diatur dalam Kode Etik Guru Indonesia.
·         semua pelanggaran guru yang  berhubungan dengan profesi guru (di/dalam kelas, lingkungan sekolah, yang masih ada hubungan dengan/berkaitan dengan hubungan guru-murid – murid-guru, proses berlajar-mengajar, serta hal-hal yang bisa dikategorikan sebagaihubungan guru-nurid – murid-guru), maka harus dilaporkan ke ke/pada Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI)
·         perselisihan antara masyarakat dengan guru terkait profesi guru, maka harus dilaporkan ke ke/pada Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI).
·         jika kesalahan/pelanggaran yang dilakukan guru tak berhubungan dengan  profesi guru, misalnya narkoba, pembunuhan, hingga teroris, atau pelanggaran hukum lainnya, maka polisi langsung memproses tanpa melewati DKGI; DKGI kabupaten – kota.
·         Selanjutnya, DKGI menjalankan proses penegakan kode etik hingga tahap persidangan; hasil dari persidangan, bisa berujung pemberian sanksi, sanksi administrasi, kepegawaian, hukum pidana; masing-masing sanksi (kategori ringan, sedang, berat), ditetapkan berdasar keputusan DKGI.
·         Jika putusan sidang di Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI ) menjatuhkan vonis atau pun sanksi, yang nyata-nyata melanggar hukum (yang berlaku di NKRI), maka diserahkan ke pihak kepolisian; guru juga memiliki hak banding atas putusan tersebut.

2.2.2        Penetapan Kode Etik

Kode etik hanya dapat ditetapkan oleh suatu organisasi profesi yang berlaku dan mengikat para anggotanya. Penetapan kode etik lazim dilakukan pada suatu kongres organisasi profesi dengan demikian penetapan kode etik tidak boleh dilakukan oleh orang secara perorangan, melainkan harus dilakukan oleh orang-orang yang diutus untuk dan atas nama anggota-anggota profesi dari organasasi tersebut. Dengan demikian, jelas bahwa orang-orang yang bukan atau tidak menjadi anggota profesi tersebut, tidak dapat dikenakan aturan yang ada dalam kode etik tersebut.
Menurut Undang-undang No.08 tahun 1974 tentang pokok-pokok kepagawaian. Pasal 28 Undang-Undang ini dengan jelas menyatakan bahwa ’’Pegawai Negeri Sipil mempunyai Kode Etik sebagai pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan didalam dan diluar kedinasan’’. Dari uraian ini dapat kita simpulkan bahwa kode etik merupakan pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan didalam melaksanakan tugas dan dalam hidup sehari-hari.
Dalam pidato pembukaan Kongres PGRI XIII, Basuni sebagai Ketua Umum PGRI menyatakan bahwa kode etik guru Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku guru warga PGRI dalam melaksanakan panggilan pengabdiannya bekerja sebagai guru (PGRI,1973).
Adapun rumusan kode etik guru yang merupakan kerangka pedoman guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya itu sesuai dengan kongres PGRI XIII, yang terdiri dari sembilan item berikut ini:
1.      Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
2.      Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
3.      Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalah gunaan.
4.      Guru menciptakan suasanan kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
5.      Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
6.      Guru secara sendiri dan/atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
7.      Guru menciptakan dan memelihara hubungan antar sesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan.
8.      Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
9.      Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.

2.2.3        Sanksi Pelanggaran Kode Etik

Kode Etik Guru Indonesia yang telah disepakati Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memiliki relevansi, sesuai kompentensi pedagogik dan profesional seorang guru karena di dalamnya juga mengatur hubungan antara guru, peserta didik, orangtua, masyarakat, teman sejawat, serta organisasi profesi lain maupun profesinya sendiri.
Pada umumnya, karena kode etik adalah landasan moral dan merupakan pedoman sikap,  tingkah laku, dan perbuatan maka sanksi terhadap pelanggaran kode etik adalah sanksi  moral .Barang siapa melanggar kode etik akan mendapat celaan dari rekan-rekanya, sedangkan sanksi yang dianggap terberat adalah sipelanggar dikeluarkan dari organisasi profesi.



BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
Banyak persyaratan guru yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang guru, antara lain persyaratan administratif, teknis, psikis, dan fisik. Kemudian sebagai guru harus memiliki kematangan jasmani, rohani, maupun edukasi. Disamping itu adanya syarat khusus yang bersifat mental, yakni: roeping. Guru sebagai tenaga professional, berarti pekerjaan guru memerlukan pendidikan lanjut di dalam science (ilmu pengetahuan) dan teknologi yang dapat digunakan sebagai perangkat dasar untuk diterapkan dalam berbagai kegiatan kemaslahatan umum.
Seorang guru perlu menciptakan hubungan baik dengan siswa, termasuk pengembanngan hubungan-hubungan secara informal dan contact-hours.Dalam melaksanakan semua tugasnya itu, guru sebagai tenaga profesional, memerlukan adanya kode etik guru yang merupakan pedoman tingkah laku bagi guru dalam berinteraksi dengan subjek didik.
Ada lima macam tugas dan tanggung jawab seorang guru yaitu, tanggung jawab dalam pengajaran, tanggung jawab dalam memberikan bimbingan, tanggung jawab dalam mengembangkan kurikulum, tanggung jawab dalam mengembangkan profesi, dan tanggung jawab dalam membina hubungan dengan masyarakat.
Guru mempunyai peranan yang sangat penting yaitu menguasai dan mengembangkan materi ajar, merencanakan dan menyiapkan pelajaran, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.
3.2  SARAN
Saran yang dapat disampaikan yaitu agar seorang guru melaksanakan tugas, peran, dan tanggung jawab seorang guru dengan baik, karena profesi guru berbeda dengan profesi lainnya. Perbedaan tersebut terletak dalam tugas dan tanggung jawab yang besar serta kemampuan dasar yang disyaratkan (kompetensi).



DAFTAR PUSTAKA
Arsa Disastra, I Ketut. 2008. Kedudukan, Peran, Proses dan Tanggung Jawab Guru dalam Pembelajaran. Palangkaraya. Universitas Palangkaraya FKIP Teknologi Pendidikan.
Ade Sugiarsih dkk. Kedudukan Guru sebagai Profesi di Sekolah. Online. http://kedudukangurusebagaiprofesidisekolah5.blogspot.com/ 






Selasa, 07 Januari 2014

semangatlah duhai hati



kata ini mengawali perjalanan hidup baru ku
tanpanya dan tanpa dia
berakhirlah kebelengguan dengan langkah maju
menutup mata untuk hal menyakitkan
menutup telinga untuk hal mengecewakan
menutup hati untuk keburukan
membuka tirai pilihan
menjemput keindahan

Selasa, 31 Desember 2013

sifat wajib bagi Allah beserta dalil naqli dan aqli

Allah memiliki sifat wajib yang harus diyakini oleh seorang muslim. sifat wajib tersebut diantaranya:



1.      Wujud , “اَلْوُجُـوْدُ
Artinya “ada”. Maksudnya , Zat Allah Ta’ala itu ada dan mustahil apabila mempunyai sifat ‘adam ( tidak ada ). Dalilnya :
a.       Dalil naqli : Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. As-Sajadah : 4

اللهُ الَّذِى خَـلَقَ السَّـمـوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَـا بَـيْـنَـهُـمَـا

Artinya : “ Allah Ta’ala yang menciptakan sekalian langit dan bumi, serta apa saja yang ada diantara keduanya “.
b.      Dalil ‘aqli :
Keberadaan alam semesta ini, dapat dilihat , diraba dan dialami secara nyata dan pasti. Tentu akal mengakui, menetapkan dan menerima bahwa , itu semua tidak mungkin ada, kalau tidak ada yang menciptakannya. Tidak mungkin ada mobil, rumah dan kue , jika tidak ada yang membuatnya. Demikian juga manusia, tetumbuhan, gunung dan alam seisinya tidak mungkin ada, jika tidak ada penciptanya. Pencipta tersebut adalah Allah Ta’ala. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa zikir (ingat) kepada Allah Ta’ala pada setiap yang maujud (yang ada).

2. Qidam “ اَلْقِـدَمُ
Artinya “dahulu”. Maksudnya, adanya Zat Allah Ta’ala tanpa didahului oleh ketiadaan. Mustahil Allah Ta’ala bersifat baharu, artinya didahului oleh ketiadaan. Dengan kata lain, Wujud Allah Ta’ala tidak ada permulaannya. Dalilnya
a.       Dalil naqli: Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al-hadid : 3.

هُـوَ الأَوَّلُ وَالآخِـرُ وَالظَّـاهِـرُ وَالْبـَاطِـنُ

Artinya : “Dia {Allah }yang awal {tiada permulaan bagi-Nya}. Yang akhir {tiada kesudahan bagiNya}. Yang Zahir dan yang batin”.


b.      Dalil ‘aqli
Alam semesta beserta isinya, ruang dan waktu sebagai mana yang telah kita ketahui adalah, ciptaan Allah Ta’ala. Maka menurut akal, sang pencipta {Allah Ta’ala} telah lebih dahulu ada {qidam } sebelum ada ciptaan-NYA {makhluk }. Sangat mustahil jika ciptaan dahulu ada, dari penciptanya. Maka patut bagi setiap mu’min untuk mengi’tiqadkan bahwa senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah menjadikannya menjadi mu’min muslim dengan taufiqNya.

3. Baqâ, “ اَلْبَـقَـاءُ
Artinya “kekal”. Maksudnya adalah, keberadaan Zat Allah Ta’ala {Wujud-nya} kekal, tanpa ada perubahan, fana {binasa} atau berakhir. Mustahil Allah Ta’ala binasa, berubah, habis atau lenyap. Dengan kata lain, wujud Zat Allah Ta’ala tanpa diakhiri oleh kesudahan atau waktu. Dalilnya:
a.       Dalil naqli: Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Ar-Rahman.

كُـلُّ مَـنْ عَـلَـيْـهَـا فَـانٍ. وَيَـبْـقَـى وَجْـهُ رَبِّـكَ ذُوالْجَـلاَلِ وَاُلإِكْـرَامِ

Artinya: “segala yang ada diatas bumi ini akan fana {binasa} dan kekallah Zat Tuhanmu {Muhammad} , yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”.
b.      Dalil ‘aqli
Semua makhluk mengalami perubahan, binasa, fana dan berakhir. Menurut akal, pasti ada yang mengakhirinya atau yang membinasakannya. Oleh karena itu, akal menemukan bahwa : ada Zat yang kekal dan yang berkuasa untuk merubah dan membinasakan, Zat tersebut adalah Zat Allah Ta’ala yang maha kekal, mustahil fana , lenyap atau binasa. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa ingat bahwasannya ia akan binasa (mati) supaya ia bertaubat dan banyak beristighfar

4. Mukhalafatuhu li al-hawadis, مُـخَـالَـفَـتُـهُ لِلْـحَـوَادِثِ
Artinya “berbeda wujud Zat Allah Ta’ala dengan sekalian yang baharu”, mustahil menyerupai atau menyamai. Maksudnya adalah, wujud Allah Ta’ala tidak menyerupai apapun dan tidaن ada apapun yang menyerupai Allah Ta’ala dalam: Zat, sifat dan fi’il- Nya. Dalilnya:
a.       Dalil naqli: Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.Asy-Syũro : 11.

لَـيْسَ كَـمِثْـلِهِ شَـيْءٌ وَهُـوَ السَّـمِـيْـعُ الْعَـلِـيْـمُ

Artinya : “ Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Allah Ta’ala. Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui “.
b.      Dalil aqli
Apabila Allah Ta’ala menyerupai atau serupa dengan sesuatu pada ;Zat, sifat atau fi’il–Nya , maka Allah Ta’ala tentu serupa dengan sesuatu itu. Sehingga pencipta dan ciptaan menjadi sama, padahal yang demikian sangat mustahil dan tidak masuk akal. Oleh karena itu, Allah Ta’ala sang pencipta alam ini, pasti tidak serupa dengan segala yang baharu atau dengan kata lain, tidak sama antara khalik dan makhluk. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa memperbanyak tasbih kepada Allah Ta’ala

5. Qiyâmuhu binafsihi , “ قِـيَـامُـهُ بِـنَـفْـسِـهِ
Artinya “ berdiri Allah Ta’ala dengan sendiriNya “. Mustahil minta tolong kepada sesuatu lain-Nya. Maksudnya adalah ; wujud Allah Ta’ala tidak membutuhkan kepada apapun dan kepada siapapun, selain Zat-Nya sendiri. Tidak kepada tempat, ruang dan pertolongan yang lain.
a.       Dalil naqli: Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al-Ankabut : 106.

إِنَّ اللهَ لَـغَـنِىٌّ عَـنِ الْعَـالَـمِـيْـنَ

Artinya : “ Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Kaya dari sekalian alam”. Maksudnya adalah, Allah Ta’ala tidak membutuhkan suatu apapun dari alam semesta ini.
b. Dalil ‘aqli
Apabila Allah Ta’ala tidak berdiri dengan sendiriNya, berarti membutuhkan pertolongan dari selain diri-Nya, maka IA lemah, tidak sempurna dan tidak Mahakaya, sama seperti makhluk. Bila Allah sama dengan makhluk ciptaan-Nya, berarti IA juga makhluk. Padahal yang demikian itu mustahil, sebab IA bersifat qidâm dan baqâ. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa berhajat dan faqir kepada Allah Ta’ala

6. Wahdâniyah, “ اَلْوَحْـدَانِـيَّـةُ

Artinya “ Esa Zat Allah Ta’ala “ dan mustahil berbilang . Maksudnya adalah, Allah Ta’ala Esa ; Zat-Nya, Sifat-Nya dan Fi’il-Nya. Dalilnya :
a. Dalil naqli.
Firman Allah Ta’ala Q.S.. Al-Ikhlas : 1

قُـلْ هُـوَ اللهُ اَحـَــدٌ

Artinya : “ Katakan ya Muhammad ! Dialah Allah Yang Maha Esa “.

b. Dalil ‘aqli.
Andai kata Tuhan itu berbilang atau lebih dari satu , maka akan timbul perselisihan diantara mereka atau berbeda faham, tentu akan binasa alam semesta ini. Sebab yang satu ingin begini dan yang satu lagi hendak begini pula. Oleh karena itu , mustahil pada akal bahwa , Tuhan yang mengatur alam ini tidak Esa. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia melihat dengan mata bathinnya kepada fi’il Allah Ta’ala dalam setiap kejadian bahwa, itu tertib dari Allah Ta’ala

7. Hayât , “ اَلْحَـيَـاةُ

Artinya “ Hidup “ . Maksudnya adalah , sifat hidup terdapat pada Zat Allah Ta’ala atau Zat Allah Ta’ala sifat-Nya adalah hidup, maka mustahil bersifat mati. Dalilnya :

a. Dalil naqli.
Firman Allah Ta’ala Q.S.. Al-Baqarah : 255

اللهُ لاَ إِلـهَ إِلاَّ هُـوَ الْحَـىُّ الْقَـيُّـوْمُ

Artinya : “ Allah Ta’ala tiada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri “.

b. Dalil ‘aqli
Kalau saja misalnya Allah Ta’ala itu merupakan Zat yang mati, niscaya alam ini akan berantakan, sebab tidak ada yang mengendalikan. Sedangkan sebuah mobil yang meluncur dengan supir mengantuk akan terjun ke dalam jurang, apa lagi jika supirnya mati.

Demikian juga dengan alam yang luas ini ; matahari, bulan, bintang-bintang dan planet-planet yang beredar di ruang angkasa, termasuk manusia, akan hancur, jika yang mengaturnya mengantuk, apa lagi mati. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia menyerahkan hidupnya kepada Allah Ta’ala yang Maha Hidup

8. ‘Ilmu , “ اَلْعِـلْـمُ

Artinya “ tahu “ atau mengetahui . Maksudnya adalah ,Zat Allah Ta’ala mempunyai sifat ‘ilmu atau Zat Allah Ta’ala bersifat Maha Tahu, maka mustahil Allah Ta’ala bersifat jâhil atau tidak tahu. Dalilnya :
a. Dalil naqli.
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al Baqarah : 29

وَهُـوَ بِـكُـلِّ شَـيْءٍ عَـلِيْـمٌ

Artinya :“ Dan Dia, (Allah Ta’ala) itu Maha Mengetahui segala sesuatu “.

b. Dalil ‘aqli
Allah Ta’ala Maha Tahu segala sesuatu, Maha Tahu terhadap segala yang telah diciptakan dan yang akan diciptakan, mustahil Allah Ta’ala tidak mengetahui atau bodoh terhadap hal tersebut, sebab kalau Allah Ta’ala bersifat bodoh, tidak tahu dan tidak berilmu, maka IA tidak dapat menguasai dan tidak dapat mengatur alam ini. Apabila alam semesta beserta isinya diperhatikan, maka mustahil menurut akal bahwa, penciptanya adalah, Zat yang tidak berilmu atau bodoh. Padahal manusia sebagi ciptaan-Nya saja memiliki ilmu , bahkan ada yang sangat berilmu, apa lagi IA. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia sangat takut untuk berbuat maksiat, sebab Allah Ta’ala Maha Tahu segala hal dan perbuatannya.

9. Qudrat , “ اَلْقُـــدْرَةُ

Artinya “kuasa“ dan mustahil lemah. Maksudnya adalah , Allah Ta’ala mempunyai sifat qudrat yang berdiri pada Zat-Nya atau qudrat itu memang sifat bagi Zat Allah Ta’ala . Dalilnya :

a. Dalil naqli

Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al – Baqarah : 30

إِنَّ اللهَ عَـلَى كُـلِّ شَـيْءٍ قَـدِيْـرٌ

Artinya : “ Sesungguhnya Allah Ta’ala atas segala sesuatu Maha Berkuasa ”.

b. Dalil ‘aqli
Alam semesta dan isinya adalah, ciptaan Allah Ta’ala , sebagaimana keterangan yang lalu. Maka sesungguhnya mustahil jika IA sendiri tidak menguasainya. Sebab andaikata Tuhan lemah tidak berkuasa, tentu tidak akan ada makhluk-Nya atau IA bukan Tuhan yang Maha berkuasa. Oleh karena itu, mustahil menurut akal , jika Allah Ta’ala lemah dan wajib pada akal bahwa, Allah Ta’ala Maha Berkuasa untuk menciptakan sesuatu atau meniadakannya. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa tawaddlu’ tidak takabbur atau sombong bahkan ia sangat takut kepada Allah Ta’ala yang Maha Kuasa

10. Irâdat , “ اَلإِرَادَةُ

Artinya “ berkehendak “ dan mustahil dipaksa, Maksudnya adalah, dalam menentukan sesuatu atau memilih sesuatu , Allah Ta’ala berbuat menurut sekehendak-Nya . Dalilnya :

a. Dalil naqli
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al-Buruj : 16

فَـعَّـالٌ لِـمَـا يُـرِيْـدُ

Artinya : “(Allah Ta’ala itu) Maha berbuat terhadap apa yang dikehendaki-Nya”.

b. Dalil ‘aqli
Dalam menciptakan sesuatu , Allah Ta’ala tetap menurut kehendak-Nya. Demikian juga dalam menentukan atau memilih. Mustahil Allah Ta’ala diatur atau dipaksa oleh kekuatan yang lain. Kalau Allah Ta’ala dapat dipaksa atau diatur oleh kekuatan yang lain, maka Ia lemah dan berarti Ia bukan tuhan. Oleh karena itu patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa bersyukur atas ni’mat Allah dan sabar atas ujianNya

11. Sama’ , “ اَلسَّـمْـعُ

Artinya “ mendengar “. Mustahil Allah Ta’ala bersifat tuli . Maksudnya adalah , Zat Allah Ta’ala bersifat sama’ artinya , mendengar segala sesuatu atau sifat mendengar adalah , salah satu sifat yang tetap ada pada Zat Allah Ta’ala . Dalilnya :

a. Dalil naqli
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. An-Nisa’ : 184

وَكَـانَ اللهُ سَـمِـيْعًـا عَـلِيْـمًـا

Artinya :“Dan adalah Allah Ta’ala itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui“.

b. Dalil ‘aqli
Allah Ta’ala mempunyai sama’, yaitu pendengaran dan mustahil tuli, sebab tuli adalah , sifat kekurangan. Allah Ta’ala mustahil bersifat kekurangan, karena sifat kekurangan itu adalah, sifat bagi zat baharu. Padahal kita yakin sepenuhnya bahwa, Allah Ta’ala itu bukan baharu , sebaliknya Allah Ta’ala adalah, pencipta segala yang baharu. Maka mustahil IA tuli , seperti yang baharu itu. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia takut dan waspada dalam berkata-kata, karena Allah Ta’ala Maha Mendengar segala perkataan yang baik maupun yang buruk

12. Bashar , “ اَلْبَـصَـرُ

Artinya “ penglihatan “ , mustahil buta atau tidak dapat melihat. Maksudnya adalah , Zat Allah Ta’ala bersifat bashar atau mempunyai penglihatan dan sifat ini adalah , salah satu sifat yang berdiri pada Zat-Nya. Dalilnya :

a. Dalil naqli
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al-Hujarârat : 18.

وَاللهُ بَـصِيْـرٌ بِـمَـا تَـعْـمَـلُوْنَ

Artinya : “ Dan Allah Ta’ala maha melihat segala apa saja yang kamu kerjakan ”.

b. Dalil ‘aqli
Semua gerak gerik dari segala pekerjaan manusia , dilihat oleh Allah Ta’ala, mustahil IA buta, sebab buta adalah, sifat kekurangan. Padahal sifat kekurangan adalah, sifat makhluk-Nya . Apabila Tuhan juga buta, maka IA adalah makhluk , padahal mustahil tuhan menjadi makhluk , sebagai mana yang diterangkan pada awal kajian ini. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia tidak akan berbuat dosa dan maksiat, sebab Allah Ta’ala Maha Melihat segala perbuatannya.

13. Kalâm , “ اَلْكَـلاَمُ

Artinya “ berkata-kata “ dan mustahil Allah Ta’ala bisu. Maksudnya adalah , Allah Ta’ala mempunyai sifat kalâm atau mempunyai tutur kata. Dalilnya :

a. Dalil naqli
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. An-Nisa’ : 164

وَكَـلَّمَ اللهُ مُـوْسَى تَـكْلِيْـمًـا

Artinya : “ Dan telah berkata-kata Allah Ta’ala dengan (Nabi Musa) sebenar – benar perkataan “

b. Dalil ‘aqli
Kalau saja Allah Ta’ala bisu , tentu tidak dapat memerintah dengan baik. Sedangkan sifat bisu adalah, sifat kekurangan. Jika IA bisu, maka Bagaimana mungkin dapat berfirman kepada para Rasul-Nya. Oleh sebab itu , sifat kalâm adalah, sifat kesempurnaan Allah Ta’ala yang wajib lagi qadîm yang berdiri pada Zat-Nya. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa memperbanyak zikir dengan harapan agar ia juga disebut Allah Ta’ala sebagai hambaNya.


Puisi Cinta

Risalah Cinta
Siti Nursansan



risalah cinta kian tersandra
tak tersentuh dan merana
kian bias terseret luka
dan usan ditelan masa

tiada lagi lembar mempesona
kegagalan membuatnya tiada
keterpurukan kian menjiwa
semua kandas diterpa fana

wahai risalah cinta
kau terkunci dusta
terkurung luka
terombang-ambim dalam gelombang air mata

Teks Dadaran (Deskripsi) Jajampanaan

  Jajampanaan kecap jajampanaan asalna tina kecap "jampana" nyaeta alat nu dijieun tina kai atau awi pikeun ngagotong nu gering, n...